My God Blessing the Land & Country HORALE

PELETAKAN BATU PERTAMA GEREJA ELIM HORALE

PELETAKAN BATU PERTAMA GEREJA ELIM
Minggu, 08 Mei 2011


Oleh
Bapak Gubernur Maluku
Karel A. Ralahalu

Peletakan Batu Pertama Pembangunan Gedung Gereja Elim ini, diatas puing-puing Gedung Gereja Elim yang telah terbakar.

Marilah kita satukan hati, tenaga dan tekad untuk membangun Iman dan Harapan bagi Kemuliaan Bapa di Sorga

Mohon dukungan Doa dan Dana.
Hubungi :
Pendeta Ny. M. Latupeirissa, S.Th
HP : 085 243 841 672

Rabu, 04 Mei 2011

SEJARAH NEGERI HORALE


SEJARAH NEGERI HORALE
By Revo Gaspersz

a.  Asal-Usul
Horale adalah sebuah negeri yang berasal dari Nunusaku, termasuk dalam sukuWemale dan merupakan rumpun Patalima. Karena satu peristiwa yang terjadi disana maka mereka memisahkan diri mencari tempat tinggal yang baru.
Moyang mereka dipimpinan oleh kapitan Telekoho (dari marga Kolohuwei), kapitan Tuisalaholea (dari marga Maatukusailemane), kapitan Soiletumene (dari marga Kololu) keluar dari Nunusaku kesebuah tempat yang bernama Sapulaulatale (berjalan sapu sampai jalan rata) dibelakang Taniwel kemudian menggunakan petunjuk alam berupa Naga Langit mereka berjalan terus kesatu tempat yang namanya Papusiwa (babi Sembilan). Dengan berjalan mengikuti terus Naga Langit itu mereka sampai di Waraloi / kampung lama (Waraloyeng artinya degu-degu atau batang anak panah), kemudian perjalanan dilanjutkan sampai di belakang negeri Warasiwa dan bermalam di tempat / kampung itu yang namanya Tipiyasu (bunuh anjing). Belum mendapatkan tempat yang aman untuk pemukiman, mereka kemudian melanjutkan perjalanan mendaki gunung dan bermalam disebelah negeri Latea disekitar sungai Sakrawala, dari situ perjalanan dilanjutkan dan tibalah disebuah gunung kecil tepatnya dibelakang kampung Saka sekarang dan mereka kemudian berdiam disitu, nama tempatnya adalah Amanlanye (sudah dekat dengan pantai). Oleh sebagian rombongan yang ikut, karena kurangnya faktor keamanan di Amanlanye (mengingat pada saat itu sering terjadi peperangan antar suku) maka dengan musyawarah mereka meneruskan perjalanan terus ke gunung Kelepessi yang ada dibelakang negeri Horale sekarang, dan selanjutnya mereka turun dan berdiam di bawah gunung Kelepessy sekarang ini.
Moyang negeri Horale sewaktu dari Nunusaku turun dengan nama Nakane (menurut orang tua-tua, nama Nakane itu karena waktu keluar dari Nunusaku itu mereka mengikuti petunjuk alam dilangit yang menyerupai naga).
Kemudian rombongan yang berada di Amanlanye turun ke daerah dekat pantai dan namanya adalah Nakaheli (Nakane kusu-kusu – karena daerahnya banyak rumput kusu-kusu)), sedangkan rombongan yang ada di gunung Kelepessy itu setelah turun ke daerah pantai namanya Nakapatu (Nakane berbatu – karena daerahnya banyak batu-batunya)

Dalam rombongan besar yang dipimpin oleh tiga kapitan itu terdapat 15 marga dengan fungsi-fungsinya yakni :
1.             Marga Kolohuwei ; Kapitan
2.             Marga Kololu ; Kapitan
3.             Marga Maatukusailemane ; Kapitan
(menjaga orang Saleman – lindungi marga Haloatuan)
4.             Marga Patalatu ; Keturunan Raja, Marga Parenta. Patalatunusa-Mauweng
5.             Marga Maalalu ; Pembawa Jalan
6.             Palaapi
7.             Marga Rumapusule ; Pembuat Panah
8.             Marga Latumapina ; Raja Perempuan
9.             Marga Maawara ; Tunggu orang yang dari belakang
10.         Marga Maatukusuanatelu ; Penjaga Baileo
11.         Marga Rumalange ; Rumah ditepi pantai
12.         Marga Tunupu
13.         Marga Rumahuru ; Rumah diujung
14.         Marga Mahali ; Bakar Damar untuk penerangan
15.         Marga Helele ; marga yang kemudian menetap di negeri Rumapelu.

Dinegeri Horale seorang anak yang baru lahir sebelum dipotong tali pusar nya sudah dipersiapkan nama Hindunya, untuk laki-laki ada yang bernama; Nyane, Toise, Sapiale, Saite, Tuale, Teleam, Taoila dan yang perempuan bernama; Rapie, Siloo, Powa, Telinye dll.

b.  Hubungan Kekerabatan
Negeri Horale mempunyai hubungan Pela dengan Negeri Nuniali, namanya Pela Parang.
Menurut cerita yang diberikan oleh orang tua-tua, pada jaman dahulu sering terjadi peperangan antar negeri dimana salah satunya melibatkan negeri Horale dengan negeri Nuniali, dalam peperangan itu menimbulkan banyak korban diantara dua negeri sehingga untuk menghindari korban bertambah maka diangkatlah Pela diantara kedua negeri dengan nama Pela Parang.
Pantangan dari pela ini adalah kedua masyarakat / orang negeri ini tidak bisa memegang barang tajam dihadapan masing-masing orang / masyarakat kedua negeri, tidak boleh kawin mengawin. Holinye (Pamali) kata mereka. Kalau hal itu terjadi maka akan terjadi guntur kilat yang besar dan untuk menghentikan kilat dan guntur tersebut harus diambil rambut dari orang tersebut yang membuat pelanggaran itu kemudian diikat ke mata panah lalu dipanahkan ke udara.
Situs untuk pembuktiannya perlu ditelusuri lagi karena hal itu sudah berlangsung cukup lama. Sampai sekarang belum dilakukan panas pela antar kedua negeri namun sudah ada upaya dengan dilakukan pendekatan antar pemerintah kedua negeri untuk dilakukan panas pela namun kelanjutanya belum pasti.
Masyarakat sangat merasa penting sekali untuk melakukan panas pela tersebut untuk menjalin lagi hubungan diantara kedua negeri dan yang terutama supaya anak – cucu kedua negeri bisa tahu hal itu dan yang penting bisa terhindar dari pantangan yang ada.
Hubungan kekerabatan lainnya seperti Gandong mungkin berupa gandong dengan marga-marga tertentu seperti marga Helele di negeri Lumapelu.

c.       Antara negeri Horale dengan Saleman ada beberapa marga yang mempunyai hubungan.
Ada 2 marga di negeri Horale yang mempunyai hubungan dengan 3 marga di negeri Saleman, yaitu Marga Maatukusailemane (Horale) dengan marga Haloatuan (Saleman) dan marga Kolohuwei (Horale) dengan marga Makuituin dan Ialuhun (Saleman). Hubungan yang terjadi adalah pada jaman dulu moyang Maatukusailemane menemui moyangnya Haloatuan dan diambil menjadi anak angkat, begitu juga dengan moyangnya Kolohuwei mengangkat moyangnya Makuituin menjadi anak angkat juga, sementara Kolohuwei bapak Toby ini karena kakek dari bapak Toby menikah dengan seorang perempuan Saleman yang bermarga Ialuhun (hubungan karena pernikahan), sejarah ini semua orang tahu, sejarah bahwa sepakterjangnya Makuituin seperti apa, semua orang tahu itu dan orang Sawai juga pernah menceritakan sejarah itu, dan jujur kita tidak mengada-ada di depan publik. Di lihat dari latar belakang sejarah wilayah ini tetap punya negeri Horalle, semua negeri adat mendukung itu, cuma karena dunia peradilan pada saat ini ketika persoalan ini di bawah ke rana hukum, ada kepentingan politik, ada kepentingan apa saja, semua itu bisa terbalik, kita sadari itu dan kita juga tidak tinggal diam.

d.   Interaksi sosial lainnya
Sebagai negeri tetangga yang berbatasan, hubungan antara masyarakat negeri Horale dengan Saleman itu sudah terjalin baik sejak dahulu kala. Dikala terjadinya pemberontakan RMS pada tahun 1950 di kota Ambon dan imbasnya dirasakan ketika para pemberontak ini mulai lari dan bergerilya di hutan-hutan pulau Seram yang mengakibatkan terjadinya penempatan pasukan keamanan di negeri-negeri yang ada di Seram Utara, salah satunya adalah negeri Horale pada kisaran tahun 1954. Masyarakat negeri Horale menjadi tertekan dengan ulah para pasukan yang ditempatkan itu (Mobrig) karena sering bertindak sewenang-wenang kepada masyarakat, karena tidak tahan dengan ulah pasukan keamanan itu maka raja negeri Horale beserta keluarga dan beberapa masyarakat Horale memilih untuk mengungsi ketengah hutan sehingga tinggal sekitar 14 kepala keluarga yang ada di negeri Horale dan untuk mempermudah pengawasan aparat keamanan terhadap mereka yang masih tinggal di Horale maka mereka dengan penduduk negeri Pasanea diungsikan ke negeri Saleman.
Masyarakat negeri Horale yang akan pergi ke kebun / dusun sagu / hutan mereka harus menyertakan salah seorang penduduk Saleman yang harus menandatangani surat jalan di pos penjagaan, hal ini dilakukan mengingat pada saat itu banyaknya anggota RMS yang bergerilya dihutan dan ditakutkan oleh pasukan keamanan nanti masyarakat Horale yang ke hutan akan berkomunikasi dengan mereka. Hal ini berlangsung terus sampai berakhir pada Januari tahun 1964 dimana selesai misi penumpasan RMS maka masyarakat yang diungsikan ke Saleman kembali lagi ke negeri Horale. Karena hubungan baik kedua masyarakat negeri ini waktu bersama di negeri Saleman pada saat dilakukan misi penumpasan RMS oleh TNI itu maka praktek kebersamaan itu berjalan terus dimana kalau masyarakat Saleman yang mau pukul sagu, ambil kelapa, ambil bangkawang, kayu besi dan lain sebagainya dating minta dulu ke masyarakat Horale yang punya dengan catatan kalau pukul sagu maka 2 tumang harus diberikan kepada pemilik pohon sagu dan sisanya buat mereka (namanya maano), hal ini berlangsung sampai tanggal 9 juli 2006……………………………..

1 komentar:

  1. Boleh beta tahu Dari mana saudara mendapatkan Sejarah ini Negeri Horale
    ?

    BalasHapus